Home Sweet Home

28 09 2009

Kotak semen memang tidak ada habisnya, sudah dibelain makan teri goreng, ketoprak tahu nyel-nyel, kerupuk goreng, tetap aja tidak selesai-selesai. Jadi tukang amatiran berminggu-minggu karena kehabisan ongkos, dibantuin tukang cilik. Tapi walaupun masih sepi (hanya 7-an rumah yang sudah ditempati), tiap malam ada konser jangkrik “krik…krik..krik”, pedesaan, “nggunung”, kebon binatang serangga (banyak bermacam-macam serangga) tetap saja “home sweet home” Alhamdulillah.

Kotak Semen Murni dari Developer

Kotak Semen Murni dari Developer

Kotak semen serah terima dari tukang (tidak selesai kehabisan ongkos)

Kotak semen serah terima dari tukang (tidak selesai kehabisan ongkos)

Tukang kecil lagi nyemen

Tukang kecil lagi nyemen

Kotak semen, finishing by tukang amatiran

Kotak semen, finishing by tukang amatiran





Ibuk Gak Boleh Keja, Ibuk Cama Diza Aja

28 08 2009
Diza

Diza

Inilah yang dikatakan anakku waktu tadi pagi aku bilang kalau hari ini harus kerja, jadi dia harus di rumah sama mbak yang biasanya kutitipin kalau aku harus keluar rumah. Kalau dah gini siapa yang harus disalahin? Kalau dah gini harus milih mana coba? Oala nduk….nduk.





Tante Donna Pindah dari ITB?

14 08 2009

Bagi alumni atau alumni ITB angkatan 90an sampe 2000an pasti pernah dengar orang yang namanya Tante Donna. Dia selebritis di ITB lo.. Tante Donna sering kali keliatan pas ada acara di ITB. Dia suka pake dandanan aneh2 dan ngomongnya jg aneh2 he3x…

Tetapi sekarang ada yang janggal. Saya sudah tidak pernah liat Tante Donna di ITB. Saya sudah liat dia sebanyak 4 kali di daerah sekitar Sarijadi. Ada beberapa pertanyaan yg sampai saat ini saya blom tahu jawabannya.

Apakah Tante Donna sudah benar2 pindah dari ITB?
Siapa yg mindahin Tante Donna dari ITB?
Kenapa Tante Donna pindah dari ITB?

NB. Blom dapat fotonya Tante Donna euy..  :D





Bersabarlah dengan Niat Baik maka Tuhan akan Memberikan Lebih dari yang Kita Kira

14 08 2009

Kupikir berat saat Tukul Arwana banyak disirikin orang karena karirnya naik dan dibayar mahal. Tapi kenapa banyak yang tidak menghargai kerja keras Tukul sebelum titik saat ini. Tahunya mereka langsung iri saja, dan mungkin dengan sindiran-sindiran yang secara implisit “loe gak pantes dengan kondisi loe sekarang, cuman gitu doang, masih mendingan gue”. Orang-orang ini tidak berpikir jika Tuhan memberikan itu kepada Tukul itu karena Tukul memang lebih pantas untuk diberi oleh Tuhan, apakah Orang-orang ini meragukan Tuhan.

Sering di dunia IT aku diolok-olokkan “terlalu baik”, karena aku berusaha mendengarkan apa yang dibutuhkan user, walau hasilnya jadi molor-molor gak jelas. Kadang ada yang sadar dan dananya ditambahin, tapi ada juga yang gak sadar terus saja berubah spesifikasi sampai hari-hari terakhir. Tapi ya sudah, asal masih dalam batas toleransiku aku akan kerjain apa maunya. Kalaupun tidak masuk akal, ya diomongkan baik-baik dengan alasan-alasan yang mudah dipahami kedua pihak. Kalau dibilang stres, saya juga sering stres, tapi ya sudah semua harus dijalani, dihadapi, tidak kabur, atau mementingkan kepentingan kemudahan pengembangan aplikasi bukan berorientasi pada user karena yang akan memakai aplikasi adalah user. Kita perlu menanyakan walau sekedar antarmuka apakah sudah enak untuk dioperasikan?

Tapi sering ketika aku merasa lulus ujian kesabaran dengan user, Tuhan memberiku lebih dari yang kuharapkan. Selalu saja ada rejeki yang lebih (kebahagiaan, materi, kesehatan, dan banyak hal yang harus disyukuri).

Ada dimana saat-saat orang-orang menganggapku tidak pantas mendapatkan apa yang telah aku dapatkan. Dan itu cukup membuatku memikirkannya (gelisah dalam tidur). Mereka tidak melihat apa yang telah kukerjakan, tapi hanya melihat bahwa aku tidak pantas mendapatkan apa yang kudapatkan. Fiuh……. ternyata banyak orang meragukan kalau Tuhan itu tahu siapa yang pantas dan tidak.





Outsourcing Anak Demi Materi dan Ambisi

12 08 2009

Aku sering bertanya, apa yang kucari?
Aku sering bertanya, bolehkah aku memilih?

Sering miris dihati karena merasa jadi budak yang terus dituntut untuk mencari materi, tapi aku tak tahu siapa yang menuntut, apakah diriku sendiri? Ambisiku? Keinginanku? atau Kebutuhan anakku dan keluarga?

Sering dalam dilema dimana aku ingin jadi ibu yang baik, menemani anakku walau hanya sekedar bermain, tapi terbentur dengan tingginya persaingan saat ini, aku tidak ikhlas jika anakku kalah bersaing hanya karena materi (like me before). Saya ingin anakku mendapatkan support atas hobi dan kemampuannya.

Idealis kalau menikah adalah karena cinta bukan materi, dan aku sangat menyayangi suamiku, dan aku benci melihat pria hanya dari materi, karena materi bisa dicari.

Jadi apa yang harus kulakukan? Apa yang sebenarnya kucari? Bolehkah aku memilih untuk menemani Anakku, menjadi ibu dan istri yang baik, dan berhenti mencari materi yang tiada henti?

Sakit hati ini meng-outsourcing-kan anak demi materi, demi mengajari anak orang lain, tapi anakku?

Apakah ada sebuah penyelesaian? Aku hanya butuh satu, karena aku terlalu lelah untuk berpikir banyak.

Ampuni ibumu ini nduk? Aku hanya berdoa, semoga aku tak seburuk yang kupikirkan. Amin.





Masyarakat Saat Ini……..

13 07 2009

Dari hasil Quick Count Pilpres kemarin saya jadi mengamati seperti apa masyarakat Indonesia sekarang.
1. Masyarakat saat ini sudah mulai pandai dan tidak terlalu mudah dibohongi dengan janji-janji
2. Masyarakat saat ini lebih banyak yang menikmati kebebasan dengan pemerintahan yang lebih longgar, tidak terlalu cocok dengan pemerintahan dimana aturan ditegakkan disana sini secara benar-benar tegak (misal, masih banyak yang menikmati cara mendapat pekerjaan dengan sistem koneksi, karena sering hal itu menjadi cara satu-satunya saat ini)
3. Masyarakat saat ini sudah sedikit bisa menganalisis mana yang mungkin dan tidak
4. Masyarakat saat ini sebenarnya lebih nyaman dengan keadaan yang stabil, tidak terlalu berani dengan perubahan (belum ada Indonesian’s Dreams seperti halnya American’s Dreams yang ingin diperjuangkan)
5. Masyarakat saat ini masih didominasi masyarakat yang nriman (terima saja kondisi, selama masih tidak parah-parah banget)
6. Masyarakat saat ini masih didominasi masyarakat yang mayoritas pikirannya memenuhi kebutuhan hidup belum ke arah aktualisasi diri.
7. Masyarakat saat ini tidak cocok dengan efisiensi seperti halnya efisiensi di perusahaan-perusahaan asing karena masih banyak orang yang mencari uang dari tidak efisiensinya sistem

Siapa yang menang pilpres ya itulah orang yang punya jatah untuk jadi presiden terlepas dari siapa yang kita pilih. Kalau yang kita pilih kalah maka kita harus sadar kalau kita bukanlah orang Indonesia kebanyakan secara umum. Oleh karena itu harus lebih berusaha memahami masyarakat sendiri jika memang ingin bertahan di negara ini. Memahami bukan berarti mengikuti, tapi jangan sampai menjadi arogan saja.





Apa Jadinya Jika Negara Dipimpin dengan Penuh Kebencian

30 06 2009

Melihat orasi capres-cawapres, selalu ada hujat menghujat mulai dari tingkat sindiran sampai hampir semua orasi isinya hujatan yang ini itu. Dan sering sekali lupa borok mereka sendiri, padahal seharusnya borok kan sakit, kok bisa gak inget ya? Apa jadinya jika negara dipimpin dengan penuh kebencian? No one perfect. Open mind-lah jangan katro, dah gak jaman.





Kenapa King Bukan Cina

29 06 2009

Ada sebuah pertanyaan, kan katanya film King itu terinspirasi dari kisah Liem Swie King (kalo gak salah tulis nama, maaf jika salah). Kenapa pemain film-nya bukan Cina? Apakah susah mengakui keunggulan orang lain (bangsa Cina) yang juga bisa benar-benar jadi orang Indonesia yang hakiki (ambil contoh Su Hok Gie dan Kwik Kian Gie (maaf jika salah tulis nama)). Tipikal masyarakat kita yang tidak suka dikritik, tidak open mind, tidak mau kalah, dan takut bersaing dengan imigran. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengakui keunggulan bangsa lain. Open Mind-lah jangan katro, dah gak jaman.





Pola Pikir Duit…duit…duit yang Tidak Akan Pernah Maju

29 06 2009

Aku sering melihat orang ribut tidak bisa berusaha karena tidak ada duit lalu pas dikasih duit alasannya beda lagi, lha duitnya kurang mana bisa buat usaha. Pola pikir inilah yang sering aku lihat dari orang Indonesia. Makanya banyak orang mengagungkan uang tanpa peduli cari dimana yang penting ada.

Setahu saya ada dua hal dalam hidup dalam usaha (kuamati dari cerita sukses orang-orang yang sudah kaya):
jika kamu anak orang kaya dimana sudah punya duit, ya bisnislah dengan duit tapi jika kamu dilahirkan bukan anak orang kaya maka jangan cuman bingung cari duit tapi sabar, mau belajar, dan berusaha keras sehingga jadi orang pertama di keluarga yang membangun kesejahteraan. Banyak kok orang jadi kaya dan berkah dari yang tadinya tidak punya duit.

Misal ada orang yang bilang cuman lulus SD mana bisa kaya, lha itu ada Cak Man yang punya bakso kota, dia cuman lulus SD, atau yang punya Rumah makan sunda Ampera. Atau ada yang bilang lagi gak punya modal, sudah menikah, pendidikan masih S1, lha itu ada yang punya bakmi langgara, awalnya juga kondisinya begitu sekarang juga sukses. Jadi ubahlah pola pikir kalau sukses hanya karena duit tapi karena kerja keras, sabar, dan open mind (buka wawasan, jangan hanya jadi katak dalam tempurung, dan berpikir dirinya sudah hebat tidak butuh ilmu yang lain (sering nih orang IT begini yang kurang memahami pentingnya ilmu marketing)). Kalo pola pikir cuman duit mah yang ada utang tambah banyak gak jadi apa-apa. Kapan Indonesia bisa maju kalo pola pikir mayoritas masyarakatnya duit duit duit dan duit.





Jacko…..

29 06 2009

Michael Jackson, setelah membaca kisah-kisahnya saya terpikir bahwa Jacko adalah orang yang hanya memiliki dunia yang sempit yaitu panggung karena dia sebenarnya hanya menguasai panggung sedangkan hidupnya tidak bahagia menurutku. Aku ingat dulu waktu kecil kalo menulis testi di buku teman-teman SD-ku artis favoritku adalah Michael Jackson yang waktu itu booming dengan “Black or White”-nya.

Kebahagiaan hidup bagiku adalah memiliki kepercayaan pada kebesaran Tuhan dan bahwa Tuhan adalah zat yang amat baik, memiliki cinta sejati (Insya Allah), memiliki teman sejati, memiliki keluarga yang mendukung dan menenangkan hati walau pasti ada riak riak kecil, dan memiliki cita-cita besar dalam hidup untuk diperjuangkan sehingga merasa bahwa hidup ini indah. Uang bukan segalanya, karena sering karena uang banyak orang mengerumuni dan menawarkan banyak hal yang menguntungkan mereka sendiri tanpa memikirkan kebaikan untuk kita, dan jika kita terjatuh maka …………