Seorang Anak Tidak Hanya Butuh Disekolahkan di Sekolah Elit…….

19 05 2009

Aku pernah mendengar seorang anak SD “Aku gak mau pulang kalau gak dijemput pake mobil”, karena dia dijemput pake sepeda motor. Itu terjadi di sebuah sekolah elit di Bandung. Lalu banyak lagi anak-anak SD yang saling bagus-bagusan HP, atau menghina temannya yang tidak punya PS3. Fiuh…..Ternyata ada orang tua siswa yang cerita kalau uang muka sekolah itu 13 juta, tiap bulan 300 rebu, dan kalo rekreasi itu sampe umroh. Anak SD diajari seperti itu, sebaik apapun agama yang diajarkan di sekolah itu tapi kalo anak-anak tidak diajari peka sosial, semuanya percuma. Anak-anak usia 7-14 tahun adalah saat-saat dimana harus diisi dengan fondasi yang kuat yaitu agama, peka sosial, kepandaian, kedisiplinan, harga diri. Dan semua akan didapat lebih banyak jika anak banyak berinteraksi dengan keluarga yang peduli tidak hanya sekolah elit yang kadang hanya demi prestige orang tua, ck ck ck ck ck…….
Kecenderungan orang tua sekarang semuanya kerja, dengan alasan mencari uang untuk anak. Tapi seorang anak tidak hanya butuh uang dan kasih sayang pembantu, itu yang sering dilupakan.

Diza

Diza

Fiuh, saat ini aku juga seorang ibu yang bekerja serabutan, karena aku lebih suka membawa pekerjaanku ke rumah sehingga bisa banyak berinteraksi dengan anak. Tapi tetap saja aku merasa menjadi ibu “kurang ajar” dan berharap anakku bisa mengerti dan memaafkan aku, karena seringkali aku tidak mau diajak anakku bermain karena masalah pekerjaan yang kubawah pulang itu. Benar-benar sebuah dilema….ampuni Ibumu ini ya nduk.





Pentingnya Sebuah Harga Diri……

19 05 2009

Seringkali di TV melihat berita PKL berkejar-kejaran dengan satpol PP, atau pembagian BLT ricuh, atau penggusuran rumah-rumah ilegal yang memakai tanah antabranta yang buntutnya selalu dibilang tanah negara atau tanah yang kong kalikong sama pemda. Alasan orang-orang yang punya bangunan selalu klasik “kami sudah tinggal bertahun-tahun disini” atau bahkan sudah membayar ke oknum tertentu.
Belum permasalahan utang negara yang duitnya sering ilang entah kemana sehingga terkesan bangsa kita terkena rentenir karena mental orang-orangnya yang tidak mau tau itu uang rakyat atau utang negara.
Melihat negara-negara yang bangkit dari krisis, saya jadi mengamati, apa sih yang tidak dipunyai bangsa ini. Akhirnya saya dapat menyimpulkan kebanyakan orang-orang bangsa ini tidak punya harga diri. Tapi ini juga bukan 100% salah mereka karena semua orang hidup dengan masa lalu. Korupsi dimana-mana, rakyat kecil disalahkan karena tidak mampu mencari makan. Sudah tahu korupsi malah terus mau pegang jabatan. Yang menjadi rakyat mau dikasih uang ngalor ngidul dengan alasan ekonomi. Jika ada bangsa yang menghina sedikit selalu berpikir cara bar-bar alias digempur saja padahal senjata sangat tidak memadai. Atau masih melekatnya pikiran tuan-tuan tanah feodal yang menyembah atasan layaknya Tuhan.
Kenapa kita tidak berpikir untuk membuktikan jika dihina, kita boleh marah tapi marah dengan membuktikan bahwa kita bisa bukan dengan cara bar-bar abad jaman kegelapan, ketika bisa baru kita dapat bilang dengan bijak bahwa “hinaan anda salah”. Mencoba menghargai setiap usaha manusia, tidak hanya melihat uang yang dipunyai dengan menghalalkan segala cara, mengundurkan diri jika memang merasa tidak mampu memegang amanah. Apakah harga diri memang sudah tidak penting lagi? Menyedihkan :( .

(Seperti himbauan dalam lagunya Iwan Fals, jika saya 1 orang berpunya menyumbang 1 orang yang tidak berpunya, Insya Allah kesulitan negara ini akan sedikit demi sedikit teratasi)