Every Single Rice is Unique and important

1 06 2009

Selalu ada cerita orang tua yang membedakan anaknya (anak emas dan bukan) walau itu mungkin terjadi tanpa sengaja, atau dosen yang lebih suka mahasiswa pandai, atau orang penjilat yang selalu menganggap orang yang dijilatnya Tuhan. Setahu saya setiap orang adalah individu yang harus dihargai secara unik karena setiap orang adalah individu yang unik. Tuhan membuat cetakan manusia dengan cetakan yang berbeda semirip apapun orangnya. Kalau Tuhan saja mau memberi cetakan yang berbeda untuk setiap orang kenapa manusia sering sekali tidak menghargai setiap hasil cetakan Tuhan itu. Setiap orang selalu memiliki kelebihan dan kekurangan. Yang terpenting adalah bagaimana mengembangkan kelebihannya dengan cara yang unik pula.
Sering orang mengajari anaknya dengan cara yang sama, padahal semua anaknya adalah unik, sering dosen mengajari mahasiswanya dengan pukul rata, pokoknya anak yang pinter ngerti, padahal setiap mahasiswa adalah unik, atau sering orang membandingkan mantan pacarnya dengan pasangan hidupnya saat ini, padahal setiap manusia adalah unik.
Yang terpenting adalah bagaimana menghargai orang secara unik, dan mengembangkan kelebihannya dengan menyadari kekurangannya. jika Anda ingin dihargai sebagai individu yang unik maka hargai orang lain secara unik. Every Single Rice is Unique and important.


Tindakan

Information

4 tanggapan

11 06 2009
Abdul Cholik

-Both of you are unique with a nice blog and usefull articles.
-My best regard for you.
-Maju terus mas/mbak.

11 06 2009
rosa

Terima kasih Pak, tetap semangat ya Pak. Blog Bapak juga bagus. Terima kasih kunjungannya.

11 06 2009
rinaldimunir

Yah itulah kelemahan pendidikan secara massal, sekali menerima mahasiswa ratusan orang atau ribuan, akibatnya perhatian ke setiap individu menjadi sulit dilakukan secara unik. Saya mendambakan mengajar di kelas kecil, tapi … susah ya, pertimbangan ekonomi membuat institusi harus merekrut banyak mahasiswa. Lagi-lagi UUD.

12 06 2009
rosa

Iya Pak, saya sering ketika di pertemuan dosen, beberapa mengatakan “mahasiswa disini harus dikerasin Bu, susah sekali ngertinya”. Tapi ketika saya mencoba mengajar mereka, saya sama sekali tidak berpikir begitu, mereka termasuk orang pandai di Indonesia (mengingat kondisi masyarakat kita secara keseluruhan). Mungkin beberapa dosen berpikiran begitu karena mereka tidak punya cukup waktu dengan idealisnya. Atau institusi yang tidak punya cukup kekuatan dengan idealisnya. Jadi memang dilema juga antara UUD dan idealis.

Tinggalkan komentar