Ibuk Gak Boleh Keja, Ibuk Cama Diza Aja

28 08 2009
Diza

Diza

Inilah yang dikatakan anakku waktu tadi pagi aku bilang kalau hari ini harus kerja, jadi dia harus di rumah sama mbak yang biasanya kutitipin kalau aku harus keluar rumah. Kalau dah gini siapa yang harus disalahin? Kalau dah gini harus milih mana coba? Oala nduk….nduk.





Bersabarlah dengan Niat Baik maka Tuhan akan Memberikan Lebih dari yang Kita Kira

14 08 2009

Kupikir berat saat Tukul Arwana banyak disirikin orang karena karirnya naik dan dibayar mahal. Tapi kenapa banyak yang tidak menghargai kerja keras Tukul sebelum titik saat ini. Tahunya mereka langsung iri saja, dan mungkin dengan sindiran-sindiran yang secara implisit “loe gak pantes dengan kondisi loe sekarang, cuman gitu doang, masih mendingan gue”. Orang-orang ini tidak berpikir jika Tuhan memberikan itu kepada Tukul itu karena Tukul memang lebih pantas untuk diberi oleh Tuhan, apakah Orang-orang ini meragukan Tuhan.

Sering di dunia IT aku diolok-olokkan “terlalu baik”, karena aku berusaha mendengarkan apa yang dibutuhkan user, walau hasilnya jadi molor-molor gak jelas. Kadang ada yang sadar dan dananya ditambahin, tapi ada juga yang gak sadar terus saja berubah spesifikasi sampai hari-hari terakhir. Tapi ya sudah, asal masih dalam batas toleransiku aku akan kerjain apa maunya. Kalaupun tidak masuk akal, ya diomongkan baik-baik dengan alasan-alasan yang mudah dipahami kedua pihak. Kalau dibilang stres, saya juga sering stres, tapi ya sudah semua harus dijalani, dihadapi, tidak kabur, atau mementingkan kepentingan kemudahan pengembangan aplikasi bukan berorientasi pada user karena yang akan memakai aplikasi adalah user. Kita perlu menanyakan walau sekedar antarmuka apakah sudah enak untuk dioperasikan?

Tapi sering ketika aku merasa lulus ujian kesabaran dengan user, Tuhan memberiku lebih dari yang kuharapkan. Selalu saja ada rejeki yang lebih (kebahagiaan, materi, kesehatan, dan banyak hal yang harus disyukuri).

Ada dimana saat-saat orang-orang menganggapku tidak pantas mendapatkan apa yang telah aku dapatkan. Dan itu cukup membuatku memikirkannya (gelisah dalam tidur). Mereka tidak melihat apa yang telah kukerjakan, tapi hanya melihat bahwa aku tidak pantas mendapatkan apa yang kudapatkan. Fiuh……. ternyata banyak orang meragukan kalau Tuhan itu tahu siapa yang pantas dan tidak.





Masyarakat Saat Ini……..

13 07 2009

Dari hasil Quick Count Pilpres kemarin saya jadi mengamati seperti apa masyarakat Indonesia sekarang.
1. Masyarakat saat ini sudah mulai pandai dan tidak terlalu mudah dibohongi dengan janji-janji
2. Masyarakat saat ini lebih banyak yang menikmati kebebasan dengan pemerintahan yang lebih longgar, tidak terlalu cocok dengan pemerintahan dimana aturan ditegakkan disana sini secara benar-benar tegak (misal, masih banyak yang menikmati cara mendapat pekerjaan dengan sistem koneksi, karena sering hal itu menjadi cara satu-satunya saat ini)
3. Masyarakat saat ini sudah sedikit bisa menganalisis mana yang mungkin dan tidak
4. Masyarakat saat ini sebenarnya lebih nyaman dengan keadaan yang stabil, tidak terlalu berani dengan perubahan (belum ada Indonesian’s Dreams seperti halnya American’s Dreams yang ingin diperjuangkan)
5. Masyarakat saat ini masih didominasi masyarakat yang nriman (terima saja kondisi, selama masih tidak parah-parah banget)
6. Masyarakat saat ini masih didominasi masyarakat yang mayoritas pikirannya memenuhi kebutuhan hidup belum ke arah aktualisasi diri.
7. Masyarakat saat ini tidak cocok dengan efisiensi seperti halnya efisiensi di perusahaan-perusahaan asing karena masih banyak orang yang mencari uang dari tidak efisiensinya sistem

Siapa yang menang pilpres ya itulah orang yang punya jatah untuk jadi presiden terlepas dari siapa yang kita pilih. Kalau yang kita pilih kalah maka kita harus sadar kalau kita bukanlah orang Indonesia kebanyakan secara umum. Oleh karena itu harus lebih berusaha memahami masyarakat sendiri jika memang ingin bertahan di negara ini. Memahami bukan berarti mengikuti, tapi jangan sampai menjadi arogan saja.





Jacko…..

29 06 2009

Michael Jackson, setelah membaca kisah-kisahnya saya terpikir bahwa Jacko adalah orang yang hanya memiliki dunia yang sempit yaitu panggung karena dia sebenarnya hanya menguasai panggung sedangkan hidupnya tidak bahagia menurutku. Aku ingat dulu waktu kecil kalo menulis testi di buku teman-teman SD-ku artis favoritku adalah Michael Jackson yang waktu itu booming dengan “Black or White”-nya.

Kebahagiaan hidup bagiku adalah memiliki kepercayaan pada kebesaran Tuhan dan bahwa Tuhan adalah zat yang amat baik, memiliki cinta sejati (Insya Allah), memiliki teman sejati, memiliki keluarga yang mendukung dan menenangkan hati walau pasti ada riak riak kecil, dan memiliki cita-cita besar dalam hidup untuk diperjuangkan sehingga merasa bahwa hidup ini indah. Uang bukan segalanya, karena sering karena uang banyak orang mengerumuni dan menawarkan banyak hal yang menguntungkan mereka sendiri tanpa memikirkan kebaikan untuk kita, dan jika kita terjatuh maka …………





Kapan Siap Menjadi Ibu yang Baik?

25 05 2009

Aku sering bertanya-tanya kapan seorang wanita sudah siap menjadi Ibu yang baik, dimana prioritas utama dalam hidupnya adalah anak dan keluarga. Aku sering melihat, seorang wanita berumur 40 tahunan sekalipun sering terlihat belum siap menjadi Ibu yang baik. Karena lebih mementingkan pekerjaan, arisan, atau belanja-belanja.
Saat ini, aku sering sekali merasa lebih enjoy dengan pekerjaanku dibanding menemani anak bermain dengan anak tetangga atau jalan-jalan dengan anak. Kalau menemaninya bermain dengan anak tetangga yang sebaya atau jalan-jalan selalu saja di otakku terpikir, kerjaan ini belum selesai, yang ini belum, yang itu juga belum. Alhasil jadi tidak nyaman menemani anak bermain. Tapi jika mengurusi pekerjaanku sering sangat tidak nyaman jika ketika tiba-tiba sedang bekerja serius tiba-tiba anak yang tadinya main sendiri bilang minta ini atau minta itu. Kalau dah gitu rasanya pusing, kepala jadi berat.
Nah pertanyaannya apakah akan jadi Ibu yang baik jika finansial terpenuhi? Sepertinya tidak juga, banyak wanita yang menikahi suaminya demi harta, anaknya jadi anak pembantu padahal dia tidak bekerja, yang artinya dia juga belum siap menjadi Ibu yang baik.
Atau akan siap jadi Ibu yang baik jika memang sudah tidak butuh bekerja yang dikejar waktu sehingga lebih tenang menemani anak bermain dengan anak tetangga atau sekedar jalan-jalan. Atau ada jawaban lain?

(sedang merasa tidak menjadi ibu yang baik bagi anak :( )





Ternyata Begitu Besar, Kemampuan itu Datang dan Pergi

25 05 2009

Sekarang bisa dibilang kemampuan membuat kode program perangkat lunak komputerku (coding) sudah lumayan mampu. Dengan berbagai pekerjaan yang pernah kuambil, semua mengasah kemampuan coding-ku. Tapi apa yang kukorbankan untuk semua pekerjaan yang penuh dengan deadline itu.
1. Kemampuan musikku hampir hilang, main gitar sudah tidak sepeka dulu kalau mencari kunci chord, main melodi gitar sudah tidak secekatan dulu.
2. Kemampuan bahasa Inggrisku menurun drastis (dibuktikan dengan turunnya nilai tes TOEFL) karena hanya sering membaca dokumen bahasa Inggris secara acak kadut tanpa pendalaman dan praktik seperti waktu S1 dulu.
3. Kemampuan menggambarku yang semakin buruk, seiring dengan merosotnya selera seniku.
Begitu juga dengan suamiku yang kemampuan analisis aplikasi komputernya menurun drastis karena lebih sering membaca ke arah manajemennya. Ternyata ketika kita besar, kemampuan datang dan pergi. Seperti halnya jual beli barang, apa yang dijual dan apa yang dibeli, semuanya 50%-50%.





Mmmmmm………..

23 05 2009

Mmmmm, dah pengen nulis dari kemarin tapi baru kesampaian sekarang. Melihat kecelakaan Hercules kemarin, begitu banyak anak-anak yang harus kehilangan ayahnya, atau bahkan ada yang kehilangan ibunya, atau ada juga yang kedua-duanya. Langsung hati ini bergetar dan tak tega melihat tangis di layar TV. Langsung keingat betapa beratnya hidup anak dan istri yang kehilangan ayahnya padahal ayahnya itulah tulang punggung keluarga. Berat sekali saat itu kurasakan. Sampai sekarang aku masih trauma, dan masih banyak lagi yang kuingat dan mempengaruhi diriku. Perjuangan hidup yang saat itu harus kulalui atas kehendak Tuhan.
Dan seperti biasa kebiasaan orang Indonesia, saling menyalahkan karena merasa tidak ikut bertanggung jawab mengenai tragedi ini.
Mmmmmm, miris. Seakan nyawa seorang ayah dan ibu tidak berharga, dan hidup keluarganya juga tidak berharga.





Seorang Anak Tidak Hanya Butuh Disekolahkan di Sekolah Elit…….

19 05 2009

Aku pernah mendengar seorang anak SD “Aku gak mau pulang kalau gak dijemput pake mobil”, karena dia dijemput pake sepeda motor. Itu terjadi di sebuah sekolah elit di Bandung. Lalu banyak lagi anak-anak SD yang saling bagus-bagusan HP, atau menghina temannya yang tidak punya PS3. Fiuh…..Ternyata ada orang tua siswa yang cerita kalau uang muka sekolah itu 13 juta, tiap bulan 300 rebu, dan kalo rekreasi itu sampe umroh. Anak SD diajari seperti itu, sebaik apapun agama yang diajarkan di sekolah itu tapi kalo anak-anak tidak diajari peka sosial, semuanya percuma. Anak-anak usia 7-14 tahun adalah saat-saat dimana harus diisi dengan fondasi yang kuat yaitu agama, peka sosial, kepandaian, kedisiplinan, harga diri. Dan semua akan didapat lebih banyak jika anak banyak berinteraksi dengan keluarga yang peduli tidak hanya sekolah elit yang kadang hanya demi prestige orang tua, ck ck ck ck ck…….
Kecenderungan orang tua sekarang semuanya kerja, dengan alasan mencari uang untuk anak. Tapi seorang anak tidak hanya butuh uang dan kasih sayang pembantu, itu yang sering dilupakan.

Diza

Diza

Fiuh, saat ini aku juga seorang ibu yang bekerja serabutan, karena aku lebih suka membawa pekerjaanku ke rumah sehingga bisa banyak berinteraksi dengan anak. Tapi tetap saja aku merasa menjadi ibu “kurang ajar” dan berharap anakku bisa mengerti dan memaafkan aku, karena seringkali aku tidak mau diajak anakku bermain karena masalah pekerjaan yang kubawah pulang itu. Benar-benar sebuah dilema….ampuni Ibumu ini ya nduk.





Pentingnya Sebuah Harga Diri……

19 05 2009

Seringkali di TV melihat berita PKL berkejar-kejaran dengan satpol PP, atau pembagian BLT ricuh, atau penggusuran rumah-rumah ilegal yang memakai tanah antabranta yang buntutnya selalu dibilang tanah negara atau tanah yang kong kalikong sama pemda. Alasan orang-orang yang punya bangunan selalu klasik “kami sudah tinggal bertahun-tahun disini” atau bahkan sudah membayar ke oknum tertentu.
Belum permasalahan utang negara yang duitnya sering ilang entah kemana sehingga terkesan bangsa kita terkena rentenir karena mental orang-orangnya yang tidak mau tau itu uang rakyat atau utang negara.
Melihat negara-negara yang bangkit dari krisis, saya jadi mengamati, apa sih yang tidak dipunyai bangsa ini. Akhirnya saya dapat menyimpulkan kebanyakan orang-orang bangsa ini tidak punya harga diri. Tapi ini juga bukan 100% salah mereka karena semua orang hidup dengan masa lalu. Korupsi dimana-mana, rakyat kecil disalahkan karena tidak mampu mencari makan. Sudah tahu korupsi malah terus mau pegang jabatan. Yang menjadi rakyat mau dikasih uang ngalor ngidul dengan alasan ekonomi. Jika ada bangsa yang menghina sedikit selalu berpikir cara bar-bar alias digempur saja padahal senjata sangat tidak memadai. Atau masih melekatnya pikiran tuan-tuan tanah feodal yang menyembah atasan layaknya Tuhan.
Kenapa kita tidak berpikir untuk membuktikan jika dihina, kita boleh marah tapi marah dengan membuktikan bahwa kita bisa bukan dengan cara bar-bar abad jaman kegelapan, ketika bisa baru kita dapat bilang dengan bijak bahwa “hinaan anda salah”. Mencoba menghargai setiap usaha manusia, tidak hanya melihat uang yang dipunyai dengan menghalalkan segala cara, mengundurkan diri jika memang merasa tidak mampu memegang amanah. Apakah harga diri memang sudah tidak penting lagi? Menyedihkan :( .

(Seperti himbauan dalam lagunya Iwan Fals, jika saya 1 orang berpunya menyumbang 1 orang yang tidak berpunya, Insya Allah kesulitan negara ini akan sedikit demi sedikit teratasi)





Pasangan Air dan Minyak juga Bisa Berkerjasama dengan Baik

10 05 2009

Bisa dibilang pola pikir kami berdua berbeda. Aku seorang yang sedikit kaku yang selalu berpikir secara dasar, sedangkan suamiku seorang yang sangat negotiable dan pandai bernegoisasi. Seringnya dalam hidup bersama yang udah kami jalani hampir 5 tahun (mulai sejak jaman masih pacaran sampai menikah sekarang) suamiku adalah seorang analis yang lebih mementingkan perencanaan dengan sangat detail sedangkan aku seorang mandor lapangan yang sangat memperhatikan urusan teknis lapangan.
Mungkin kalau dari segi pewayangan suamiku adalah sangkuni (pengatur strategi, cuman dia kurang licik :D ) dan aku adalah Duryadana yang pekerja kasar :D (bagian yang perang di lapangan). Sering jika ada pekerjaan, proses negosiasinya aku selalu butuh suamiku untuk negosiasi awal dan suamiku selalu butuh aku untuk implementasi di lapangan (dia tidak terlalu bisa :D ). Urusan rumah tangga juga begitu, suamiku sopir yang baik dan aku kernet yang baik yang juga kadang jadi sopir tembak :D . Semua jadi saling mengisi. So jangan paranoid dengan sifat air dan minyak asalkan masih se-visi misi semua akan baik-baik saja :D . Amin.