Waktu kecil pas SD gitu sering didoktrin di sekolah kalau penjajah itu jahat, dan yang kutangkap saat itu sepenuhnya penjajahan di Indonesia adalah salah penjajah.
Sekarang ketika aku dewasa aku jadi mengerti kalau sebenarnya Bangsa ini bisa dijajah bukan hanya salah dari penjajah yang “jahat”. Tapi lebih ke arah mental bagian dari bangsa ini (part, not all). Sampai sekarang saja sudah bisa dirasakan dimana orang-orang yang berpengaruh di bangsa ini lebih memilih mengeruk uang negara demi fasilitas mereka (pengen laptop yang bagus lah padahal cuman dipake notepad-nya doang, pengen mobil bagus lah biar bisa dipamerin istri di arisan, pengen rumah bagus lah biar keliatan orang kaya, dkk). Gak peduli siapa yang akan bayar semua itu. Berusaha bikin atasan senang agar jadi naik jabatan.
Kita flashback ke jaman dulu, selalu saja ada oknum pejabat, demang, bupati atau apalah jabatan jaman dulu yang orang Indonesia asli yang “ngatok” alias memposisikan diri sebagai peliharaan/mata-mata penjajah. Nah sering sekali perlawanan bangsa ini gagal gara-gara segelintir orang ini (jika dibandingkan dengan jumlah semua penduduk). Oleh karena itu walau segelintir tapi jika punya kekuasaan maka akan cukup untuk merusak sebuah negara.
Kenapa kita sampai dijajah 350 tahun, karena memang ada orang-orang yang tidak ingin bangsa ini merdeka saat itu, merdeka berarti mereka kehilangan pendapatan.
Kenapa bangsa ini terpuruk saat ini, karena ada orang-orang yang senang aturan tidak ditegakkan, senang rakyat jadi bodoh karena itulah lahan hidup mereka.
Banyak orang ingin aturan ditegakkan dan itu berarti tidak ada pengurus SIM siluman, tidak ada fasilitas besar-besaran, tidak ada kongkalikong dengan polisi jika ditilang, harus bayar peron tanpa harus bilang “anggota”,tidak ada uang tambahan ini itu dari uang negara yang dipaksa jadi legal, UN dijalankan dengan jujur, Pemilu jujur dan banyak hal lainnya.
Permasalahannya, siapkah bangsa ini yang kecenderungan masyarakatnya ingin diprioritaskan tapi tidak suka memprioritaskan. Saya tidak yakin bangsa ini siap.
Seperti kalimat pada salah satu kampanye Capres, “Apa yang tidak dipunyai Indonesia untuk menjadi bangsa yang besar”, jawabnya hanya satu dan krusial, mental untuk menjadi bangsa besar.


Recent Comment