Mengapa Bangsa Ini Bisa Dijajah Sampai 350 Tahun

24 06 2009

Waktu kecil pas SD gitu sering didoktrin di sekolah kalau penjajah itu jahat, dan yang kutangkap saat itu sepenuhnya penjajahan di Indonesia adalah salah penjajah.

Sekarang ketika aku dewasa aku jadi mengerti kalau sebenarnya Bangsa ini bisa dijajah bukan hanya salah dari penjajah yang “jahat”. Tapi lebih ke arah mental bagian dari bangsa ini (part, not all). Sampai sekarang saja sudah bisa dirasakan dimana orang-orang yang berpengaruh di bangsa ini lebih memilih mengeruk uang negara demi fasilitas mereka (pengen laptop yang bagus lah padahal cuman dipake notepad-nya doang, pengen mobil bagus lah biar bisa dipamerin istri di arisan, pengen rumah bagus lah biar keliatan orang kaya, dkk). Gak peduli siapa yang akan bayar semua itu. Berusaha bikin atasan senang agar jadi naik jabatan.

Kita flashback ke jaman dulu, selalu saja ada oknum pejabat, demang, bupati atau apalah jabatan jaman dulu yang orang Indonesia asli yang “ngatok” alias memposisikan diri sebagai peliharaan/mata-mata penjajah. Nah sering sekali perlawanan bangsa ini gagal gara-gara segelintir orang ini (jika dibandingkan dengan jumlah semua penduduk). Oleh karena itu walau segelintir tapi jika punya kekuasaan maka akan cukup untuk merusak sebuah negara.

Kenapa kita sampai dijajah 350 tahun, karena memang ada orang-orang yang tidak ingin bangsa ini merdeka saat itu, merdeka berarti mereka kehilangan pendapatan.

Kenapa bangsa ini terpuruk saat ini, karena ada orang-orang yang senang aturan tidak ditegakkan, senang rakyat jadi bodoh karena itulah lahan hidup mereka.

Banyak orang ingin aturan ditegakkan dan itu berarti tidak ada pengurus SIM siluman, tidak ada fasilitas besar-besaran, tidak ada kongkalikong dengan polisi jika ditilang, harus bayar peron tanpa harus bilang “anggota”,tidak ada uang tambahan ini itu dari uang negara yang dipaksa jadi legal, UN dijalankan dengan jujur, Pemilu jujur dan banyak hal lainnya.

Permasalahannya, siapkah bangsa ini yang kecenderungan masyarakatnya ingin diprioritaskan tapi tidak suka memprioritaskan. Saya tidak yakin bangsa ini siap.

Seperti kalimat pada salah satu kampanye Capres, “Apa yang tidak dipunyai Indonesia untuk menjadi bangsa yang besar”, jawabnya hanya satu dan krusial, mental untuk menjadi bangsa besar.





Tidak lulus UN (jika saat ini), Tapi Bisa Masuk ITB

15 06 2009

Jika saya ikut UN saat ini, sudah dapat dipastikan saya tidak lulus. Nilai batas UN adalah 5,5 sedangkan saat itu nilai Fisika saya hanya 4,6. Jadi saya pasti tidak lulus UN. Tapi saya bisa masuk ITB jurusan teknik informatika dengan modal otak.

Pertanyaannya apakah UN memang filter yang baik? Saya setuju dengan adanya filter. Tapi bikinlah batasan yang masuk akal dengan kondisi yang ada dengan pendidikan yang masih tidak merata, 4.0 mungkin masih masuk akal lah. Jadi kalau dihitung saat itu saya masih bisa lulus UN.





Inikah Rasanya Jadi Imigran

15 06 2009

Bisa dikatakan kami ini imigran dari Jawa ke tanah Sunda mulai dari tahun 2001. Waktu kecil sering sekali aku mendengar doktrin mengenai orang cina yang inilah yang itulah. Tapi ketika saat ini aku menjadi imigran (pendatang) aku mengerti mengapa banyak orang cina begitu. Saat ini aku merasa seperti menjadi orang cina yang disebutkan pada saat aku kecil. Orang cina imigran.

Secara psikologi memang orang-orang pribumi akan mencoba tetap menegakkan teritorinya dengan cara mereka. Dan seorang imigran mau tidak mau harus mengikuti aturan teritori atau terpaksa harus pergi jika tidak mengikuti. Misal sebuah pengalaman dimana membeli sebuah tanah perumahan di pinggiran yang masih tergolong agak desa. Ketika membangun rumah, warga mewajibkan memakai tukang dari desa itu. Hukumnya “wajib” kalau tidak mereka tidak menjamin jika ada apa-apa dengan rumah yang akan dibangun. Mungkin inilah cara yang mereka tahu, “mengancam”.

Mbak Ade, yang bantuin nyuci

Mbak Ade, yang bantuin nyuci

Sebagai pendatang yang sudah beberapa tahun, kami belajar mengenal lingkungan. Dan kami sebenarnya lebih suka memakai tukang yang kami percayai. Suami mbak yang membantu kami mencuci memiliki keahlian sebagai tukang. Mbak tersebut biasa membantu kami mencuci tiga kali seminggu. Selesai mencuci dia pulang. Kenapa kami percaya kepadanya, mbak tersebut sudah membantu kami sejak dua tahun yang lalu (sejak kami mengambil S2). Kami memberikan kepercayaan kunci rumah, karena kami sering berangkat pagi sementara mbaknya datang sekitar 07.30 pagi. Kami sering meninggalkan HP atau laptop sembarangan tapi semuanya tetap ada. Kami percaya mbak ini orang jujur (satu-satunya orang daerah sekitar yang sangat kami percaya).

Kami sangat ingin memberikan kontribusi kepada kehidupan mbak tersebut dengan rejeki yang diberikan Tuhan kepada kami. Sampai akhirnya suami mbak tersebut berusaha ngobrol yang enak ke warga desa tempat tanah yang dibeli. Tapi warga tetap kekeh, atau ………..Fiuh, akhirnya diputuskan memakai tukang desa itu dengan mandor tetap suami mbak yang bantuin nyuci. Sekarang kami mengerti banyak hal menjadi imigran, seperti orang cina imigran yang akhirnya sedikit membuat “barrier to entry” untuk mempertahankan diri.

Semua manusia hidup dengan masa lalu, dan semua akibat karena adanya sebab.





Pembunuh masal

15 06 2009

Tahukah anda makhluk seperti apa pembunuh masal paling hebat di dunia ini?
Menurut saya dialah koruptor.
Koruptor mengambil uang orang-orang yang terpaksa jadi tidak bisa makan dan akhirnya mati.
Koruptor mengambil uang orang-orang yang sakit dan tidak bisa berobat dan akhirnya mati.
Koruptor mengambil uang orang-orang yang terpaksa tidak bisa memberi anaknya makan layak dan akhirnya mati.
Koruptor mengambil uang orang-orang yang seharusnya bisa menghidupi hidupnya dengan bersekolah tapi jadi tidak bisa hidup karena tidak bersekolah.
Koruptor mengambil uang untuk memperbaiki perangkat orang yang terpaksa mati karena tugas (kecelakaan pesawat, kapal, jalan rusak)
Apa itu makhluk koruptor?
Orang-orang yang melegalkan uang yang ditanggung negara untuk kepentingan pribadi dengan alasan yang dipaksa menjadi legal.
Sadarkah anda para koruptor, dari pejabat hingga preman.
Anda adalah makhluk pembunuh masal.
Dan anda juga berusaha membunuh anak-anak dan keluarga anda dengan memberi makan uang hasil pembunuhan masal.





Oala, salah kapra…..Menyingkapi Kasus Prita

4 06 2009

Lha kalau semua orang curhat, cerita keluhan, atau kecewa cerita-cerita masuk penjara, maka semua yang nulis kayak gitu di internet atau media lain masuk penjara semua. Tahan aja itu jutaan orang. Atau tahan aja itu yang punya koran sama yang nulis di rubrik pembaca.
Mbok ya ndak usah katro dan sensitif. Secara psikologi, tidak bisa kita bikin orang seluruh dunia senang dengan kita.
Orang berduit atau yang punya uang sering “just playing game” dengan orang yang lebih lemah, alih alih cuman kayak ospek aja “supaya dia gak berani lagi sama kita”, ya intinya mereka merasa Tuhan kali ya. “Ingat pakne bune masih ada Tuhan sungguhan, dan itu bukan Anda”. Dah gitu malah jadi ajang kampanye lagi ck ck ck ck…….”Jan Ora Mutu kabeh”.





Malaysia Indonesia Sahabat Lama…..

4 06 2009

Sering ketika aku kecil orang tua-tua bilang “Kalau sama Indonesia, Malaysia kalah” entah itu dalam ajang olah raga, pendidikan, atau bidang-bidang lain. Saat itu di mata dunia memang masih menang Indonesia. Tapi yang saat itu tidak pernah dipikirkan orang-orang tua itu adalah bahwa dunia bisa berbalik, nasib bisa berubah. Yang tadinya lemah bisa jadi kuat. Yang kuat bisa jadi lemah.
Menurut saya, reaksi Malaysia yang mungkin beberapa kali terkesan meremehkan Indonesia adalah sebuah akibat dari kesombongan bangsa kita dulu. Dan sekarang sebagai bangsa yang dulu seakan-akan selalu menjadi adik yang tidak pernah menang sekarang menjadi lebih unggul dari kakaknya. Janganlah marah dengan akibat itu, ingat dosa masa lalu. Sebaiknya semua diselesaikan baik-baik. Jika memang sudah terpaksa baru kita maju sebagai ksatria. Bukan termakan provokasi tidak jelas.
Kenapa kita tidak belajar menjadi bangsa yang elit, yang lebih memiliki harga diri. Jangan jadi sensitif karena tidak pernah mau mengaku kalah. Akuilah jika memang kalah, dan bangkit untuk menjadi menang dengan belajar dari kekalahan seperti Malaysia.





To Much Think Will Kill You….

1 06 2009

Belajar dari hidup yang sudah kujalani hampir 28 tahun, aku jadi berpikir bahwa kalau kita terlalu banyak berpikir dan terus berpikir hingga melupakan pentingnya sebuah aksi, maka semua yang kita pikirkan hanya akan menjadi pikiran tanpa kenyataan.





Makan Gak Punya Duit, Sekolah Apa Lagi, tapi Beli Rokok Selalu Ada Duit, ck ck ck ck ck …..

1 06 2009

Aku beberapa kali bertanya ke anak-anak jalanan, atau anak pemulung yang bercerita bahwa dirinya tidak sekolah. Atau cerita lainnya lagi yang katanya mereka juga sering sehari makan sekali. Namun yang bagiku aneh kenapa mereka seringnya selalu ada uang untuk membeli rokok.
Atau ada lagi sopir angkot yang mengeluh tidak bisa membayar setoran, tapi beli rokok bisa.
Sering juga ketika aku punya niat memberi orang lain jadi urung karena orangnya merokok.
Rokok menurut saya adalah kebutuhan yang sangat sangat sangat tidak primer, kalau mereka sudah bisa beli rokok berarti sebenarnya mereka sudah kaya karena sudah mampu membeli barang yang sangat sangat sangat tidak primer.
Jadi bagi para perokok yang merasa miskin (seringnya orang Indonesia bangga miskin dengan selalu bilang “saya kan orang miskin” padahal perkataan adalah doa) sadarlah sebenarnya Anda tidak miskin, Anda sangat kaya sampai mampu membeli barang yang sangat sangat sangat tidak primer.





Duh Sopir Angkot….

1 06 2009

Kemarin ada tulisan lucu di sebuah angkot jurusan cicaheum-ledeng, sayangnya tidak aku foto. Jadi begini bunyinya

“Tuhan menciptakan Dajjal dan Sopir Angkot untuk menguji kesabaran Anda”

Ha…ha…ha…ha….





Every Single Rice is Unique and important

1 06 2009

Selalu ada cerita orang tua yang membedakan anaknya (anak emas dan bukan) walau itu mungkin terjadi tanpa sengaja, atau dosen yang lebih suka mahasiswa pandai, atau orang penjilat yang selalu menganggap orang yang dijilatnya Tuhan. Setahu saya setiap orang adalah individu yang harus dihargai secara unik karena setiap orang adalah individu yang unik. Tuhan membuat cetakan manusia dengan cetakan yang berbeda semirip apapun orangnya. Kalau Tuhan saja mau memberi cetakan yang berbeda untuk setiap orang kenapa manusia sering sekali tidak menghargai setiap hasil cetakan Tuhan itu. Setiap orang selalu memiliki kelebihan dan kekurangan. Yang terpenting adalah bagaimana mengembangkan kelebihannya dengan cara yang unik pula.
Sering orang mengajari anaknya dengan cara yang sama, padahal semua anaknya adalah unik, sering dosen mengajari mahasiswanya dengan pukul rata, pokoknya anak yang pinter ngerti, padahal setiap mahasiswa adalah unik, atau sering orang membandingkan mantan pacarnya dengan pasangan hidupnya saat ini, padahal setiap manusia adalah unik.
Yang terpenting adalah bagaimana menghargai orang secara unik, dan mengembangkan kelebihannya dengan menyadari kekurangannya. jika Anda ingin dihargai sebagai individu yang unik maka hargai orang lain secara unik. Every Single Rice is Unique and important.